Pernah merasa sangat memahami sebuah topik setelah menonton beberapa video atau membaca beberapa artikel? Kita bahkan mungkin cukup percaya diri untuk menjelaskannya kepada orang lain. Namun, semakin dalam mempelajarinya, justru semakin terlihat betapa banyak hal yang belum kita ketahui.
Fenomena seperti ini berkaitan dengan Dunning-Kruger Effect, yaitu kondisi ketika pengetahuan yang masih terbatas dapat disertai rasa percaya diri yang tinggi. Materi yang Anda berikan menghubungkan fenomena tersebut dengan kemampuan metakognisi, yakni kemampuan untuk menilai sejauh mana kita benar-benar memahami sesuatu. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Metakognisi: Mengetahui Apa yang Kita Ketahui
Secara sederhana, metakognisi dapat dipahami sebagai “berpikir tentang berpikir.” Bukan hanya belajar sebuah materi, tetapi juga mampu mengevaluasi pemahaman diri sendiri.
Ada empat kondisi yang dijelaskan dalam materi:
Saya tahu bahwa saya tahu — kita memahami sesuatu dan sadar bahwa kita memahaminya.
Saya tahu bahwa saya tidak tahu — kita sadar masih memiliki keterbatasan pengetahuan.
Saya tidak tahu bahwa saya tahu — sebenarnya memiliki pengetahuan, tetapi tidak menyadari kemampuan tersebut.
Saya tidak tahu bahwa saya tidak tahu — belum memahami sesuatu, tetapi merasa sudah menguasainya.
Kondisi terakhir inilah yang dalam materi dikaitkan dengan Dunning-Kruger Effect. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Semakin banyak kita belajar, kita juga bisa mengalami fase ketika kepercayaan diri mulai menurun karena baru menyadari luasnya hal yang belum diketahui. Materi menggambarkannya sebagai perjalanan dari “Peak of Mount Stupid” menuju “Valley of Despair”, kemudian secara perlahan berkembang menuju keahlian apabila proses belajar terus dilakukan. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Masalahnya Bukan Hanya Apa yang Dipelajari, tetapi Bagaimana Kita Belajar
Salah satu kesalahan yang umum adalah menganggap rasa familiar sebagai tanda bahwa kita sudah memahami sesuatu.
Misalnya, membaca halaman yang sama berulang kali dapat membuat kalimat terasa semakin familiar. Kita kemudian berpikir:
“Oh, ini gampang. Aku sudah paham.”
Padahal, ketika buku ditutup dan kita diminta menjelaskannya tanpa melihat catatan, belum tentu kita mampu.
Materi menyebut keadaan tersebut sebagai illusion of competence atau ilusi bahwa kita telah menguasai pengetahuan. Cara belajar pasif seperti membaca ulang dan Sistem Kebut Semalam (SKS) juga dikaitkan dengan masalah retensi informasi dalam jangka panjang. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Lalu, bagaimana cara belajar yang lebih efektif?
1. Retrieval Practice: Jangan Hanya Membaca, Cobalah Mengingat
Retrieval Practice berarti berlatih mengambil kembali informasi dari ingatan.
Daripada membaca materi yang sama berkali-kali, baca materinya kemudian tutup sumber tersebut dan coba keluarkan kembali informasi dari kepala Anda.
Misalnya setelah membaca satu bab, tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa tiga konsep utama yang baru saja saya pelajari?”
Tuliskan jawabannya tanpa membuka buku.
Setelah selesai, barulah periksa kembali materi dan lihat bagian mana yang salah atau terlupakan.
Materi memberikan contoh pendekatan Study-Test-Test-Test (STTT): membaca sekali kemudian melakukan pengujian diri beberapa kali, dibanding sekadar membaca ulang berkali-kali. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Dengan begitu, belajar berubah dari aktivitas pasif menjadi proses aktif.
2. Spaced Repetition: Jangan Belajar Semuanya dalam Satu Malam
Bayangkan Anda memiliki tiga jam untuk belajar.
Pilihan pertama:
Minggu malam → belajar 3 jam sekaligus.
Pilihan kedua:
Senin → 1 jam
Rabu → 1 jam
Jumat → 1 jam
Materi menyarankan pendekatan kedua: Spaced Repetition atau pengulangan berjarak.
Intinya sederhana: jangan menumpuk seluruh sesi belajar pada satu waktu. Berikan jarak di antara sesi sehingga otak perlu mencoba mengambil kembali informasi yang sebelumnya dipelajari. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Dengan kata lain, sedikit lupa bukan selalu sesuatu yang buruk. Ketika kita harus berusaha mengingat kembali informasi, proses belajar justru menjadi lebih menantang.
3. Interleaving: Campurkan Jenis Masalah
Cara lain adalah Interleaving.
Misalnya Anda sedang belajar matematika dan memiliki tiga jenis soal: A, B, dan C.
Pendekatan blocking bisa terlihat seperti:
AAAA → BBBB → CCCC
Sedangkan interleaving:
A → C → B → A → B → C
Mengapa dibuat lebih acak?
Karena kita tidak hanya dituntut mengetahui cara menggunakan sebuah rumus, tetapi juga harus mengenali kapan rumus tersebut seharusnya digunakan.
Menurut materi, interleaving memaksa otak mengenali pola dan menentukan strategi yang sesuai dengan konteks persoalan. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Belajar yang Terasa Sulit Belum Tentu Berarti Buruk
Di sinilah muncul konsep menarik bernama Desirable Difficulties.
Retrieval Practice terasa lebih sulit daripada membaca ulang. Spaced Repetition membutuhkan kedisiplinan lebih besar daripada belajar semalam. Interleaving juga terasa lebih membingungkan daripada mengerjakan jenis soal yang sama terus-menerus.
Namun, dalam materi, kesulitan yang sengaja diciptakan tersebut diposisikan sebagai bagian penting dari proses belajar karena mendorong aktivitas berpikir yang lebih tinggi. �
artikel-blog-strategi-belajar.pdf
Ada paradoks menarik di sini:
Cara belajar yang terasa mudah belum tentu menghasilkan pembelajaran yang kuat. Sebaliknya, metode yang terasa lebih sulit dapat memaksa kita berinteraksi lebih aktif dengan materi.
Jadi, Bagaimana Cara Mulai Mempraktikkannya?
Anda tidak perlu mengubah seluruh kebiasaan belajar sekaligus. Ambil satu materi yang ingin dikuasai.
Baca → tutup materi → coba jelaskan dari ingatan → periksa kesalahan → beri jeda → ulangi beberapa hari kemudian → campurkan dengan materi lain.
Ketika tidak mampu menjelaskan suatu bagian, jangan langsung menganggap sesi belajar gagal. Justru di situlah Anda menemukan sesuatu yang sangat penting:
Anda sekarang tahu apa yang belum Anda tahu.
Dan itu merupakan bentuk metakognisi yang jauh lebih berguna daripada sekadar merasa paham.
Penutup
Menjadi lebih baik dalam belajar bukan hanya persoalan berapa banyak informasi yang kita konsumsi. Yang tidak kalah penting adalah seberapa baik kita mengetahui batas pemahaman kita sendiri.